berdoa-di-multazam-_120928113706-884

Doa itu meruntuhkan Segala Logika

Sudah puluhan tahun, Zakaria menanti kehadiran sang buah hati. Zakaria tidak pernah kecewa berharap, tangannya tetap tengadah ke langit, air matanya tumpah ruah, suaranya lirih memecah sunyi, “Yaa Rabb, tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, tetapi aku belum pernah kecewa berdoa kepada-Mu. Rasa khawatir merambati hatiku tentang penerusku sepeninggalku, sedangkan istriku mandul. Karena itu, anugerahilah aku seorang putra, yang mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Rabb, seorang yang Engkau ridhai.”

Pinta ini menembus lapis-lapis langit. Allah menjawabnya melalui malaikat-Nya, “Hai, Zakaria! Kami memberimu kabar gembira dengan kehadiran seorang anak yang bernama Yahya. Sebelumnya, Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.”

Zakaria kembali bertanya, “Ya Rabb, bagaimana aku akan mempunyai anak, sedangkan istriku mandul dan aku sendiri sudah sangat tua.”

Malaikat menjawab, “Wahai Zakaria! Jangan ragu. Hal itu begitu mudah bagi Allah. Bukankah dulu telah Allah ciptakan kamu sebelum ini. Waktu iti, kamu belum pernah ada di dunia sama sekali.”

Zakaria berkata, “Yaa Rabb! Agar aku tidak ragu, berilah aku suatu tanda,”.
Malaikat menjawab, “Tanda bagimu bahwa kamu tidak dapat berbicara kepada manusia selama tiga malam, padalah kamu sendiri sehat.”

Setelah itu, Zakaria keluar dari mihrab menemui kaumnya. Ia memberi isyarat kepada mereka, “Wahai kaumku! Rajinlah kalian bertasbih di waktu pagi dan sore .”

Waktu terus berjalan. Allah pun menakdirkan kelahiran Yahya putra Zakaria. Ketika masih kanak-kanak, Allah berpesan kepadanya, “Hai Yahya! Peganglah Taurat ini dengan sungguh-sungguh. Kami beri untukmu hikmah walaupun engkau masih kanak-kanak”.

Yahya itu anak yang memiliki rasa belas kasihan yang mendalam. Ia anak yang suci dari dosa. Walaupun masih anak-anak, ia tidak banyak bermain dan bersenda gurau. Suatu ketika, teman-teman sebayanya mengajaknya bermain, namun Yahya kecil hanya menjawab, “Maaf, ya teman-teman. Bukan untuk itu aku diciptakan.”

Yahya itu anak yang bertakwa, penuh bakti kepada kedua orangtuanya. Ia sangat rendah hati.

Allah secara khusus mendoakan putra Zakaria itu dengan mengatakan,
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
“Semoga kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam ayat 15)

Pernah Terbayang nggak ? Anda Berdoa di Multazam, ditempat paling diijabah Allah di muka bumi ?

Ayo Umroh Bersama Kami

Umroh Semarang

Umroh Murah Semarang

Umroh Jakarta

Umroh Depok

Tags: No tags

Leave a Comment