Kakbah Menjawab Sujudku

  • 0

Kakbah Menjawab Sujudku

Saat memandang Kakbah, kita disunnahkan baca doa :

“Allahumma zid hadzaal baita tasriifaan wa ta’dhiimaan wa takriimaan wa mahaabatan…”

yang artinya : “Ya Allah tambahkan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan wibawa pada Kakbah ini..”

Dan kita bisa menitikkan air mata saat memandangnya. Namun benarkah kita akan selalu menjaga kemuliaan itu? Menjaga keagungan itu? Menjaga kehormatan itu? Menjaga wibawa itu? Berapa banyak kita justru mengabaikan panggilan azan. Menelantarkan masjid dan mushola di dekat rumah kita. Tidak tergerak utk ikut memakmurkan rumah2 Allah di dekat diri kita? Membiarkan anak2 kita bermain hingga melambatkan shalatnya? Masya Allah. Ya, Allah, dalam sujud syahdu di KakbahMu, Engkau menampar jiwaku dan menyadarkanku, betapa selama ini aku sering mengabaikanMu dan menelantarkan rumah2Mu di negeriku.

¤Hakekat Umroh bersama Saibah¤

Oleh Edy Darmoyo


  • 0

7 Masjid Penjaga Madinah

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID,

Satu dari beberapa tempat yang menjadi tujuan perziarahan jamaah haji dan umrah adalah Masjid Sab’ah.

Secara harfiah, Masjid Sab’ah berarti masjid yang berjumlah tujuh buah, yaitu sekelompok masjid-masjid dengan ukuran kecil dan jumlahnya mencapai tujuh buah. Masjid tersebut antara lain; Masjid Salman, Masjid Abu Bakr, Masjid Umar, Masjid Usman, Masjid Ali, Masjid Fatimah, dan Masjid Fath.

Secara geografis, masjid-masjid ini terletak di kaki Bukit Sala’ yaitu sebelah Barat Laut Masjid Nabawi. Jaraknya sekitar 3 km dari Kota Madinah al Munawwarah. Sebenarnya, masjid masjid ini tidak menjadi bangunan masjid yang refresentatif untuk shalat berjamaah, karena ukurannya yang sangat kecil layaknya seperti sebuah pos keamanan.

Memang menurut riwayat, Masjid Sab’ah (Masjid Tujuh) merupakan pos keamanan yang ditempati oleh sahabat- sahabat Nabi Muhammad SAW ketika meletusnya Perang Khandak.

Secara harfiah Khandak berarti Parit, yaitu perang ketiga setelah Perang Badr dan Perang Uhud. Perang ini diikuti langsung oleh Rasulullah SAW. Perang Khandak meletus di bulan syawal tahun ke-5 Hijriyah yang bertempat di sekitar Kota Madinah.

Peristiwa ini terjadi ketika Kota Madinah dikepung dan diserang oleh musuh dari pihak Kafir Quraisy. Perang ini juga disebut juga dengan perang Ahzab, karena Kafir Quraisy mengajak suku-suku lain, seperti Yahudi dari Khaibar, Bani Salim, Bani Asad, Gatafan, Murah dan Asyja’ untuk bergabung bersama mereka menggempur pertahanan kaum muslimin, khususnya di Kota Madinah.

Menyikapi kondisi seperti ini, Salman Al-Farisi, seorang sahabat Nabi yang berasal dari Persia mengusulkan untuk membentuk benteng pertahanan kaum muslimin dengan membuat parit di sekeliling Kota Madinah terutama di bagian utara kota.

Ketika pasukan sekutu Quraisy sampai di Madinah, mereka tercengang dengan adanya parit yang menganga lebar dan dalam, sehingga tujuan mereka hendak menyerang Kota Madinah gagal total.

Mereka akhirnya hanya menghamburkan anak panah yang dilepas dari busurnya tanpa mengenai sasaran. Sesekali diantara mereka ada yang ingin menyeberang seperti ‘Amr, tetapi ditebas oleh Ali bin Abi Thalib hingga tewas.

Demikian ‘Ikrimah Ibn Abu Jahl gagal menyeberangi khandak (parit), karena dlhalau oleh Ali Bin Abi Thalib serta mujahidin muslimin lainnya, sehingga ia lari terbirit-birit.  Akhimya, Kafir Quraisy dan sekutunya memutuskan untuk berkemah di sekitar Kota Madinah tanpa membawa hasil apapun.

Untuk mengawasi benteng pertahanan (parit) tersebut, Rasulullah memerintahkan untuk membangun pos pengawasan yang sekaligus berfungsi sebagai tempat shalat yang ditempati oleh tujuh sahabat utama Nabi. Maka berdirilah tujuh buah masjid yang sekarang dikenal dengan Masjid Sab’ah (Masjid Tujuh).

Kondisi masjid-masjid itu sekarang masih cukup baik, namun oleh karena adanya perluasan kawasan kota oleh pemerintahan Arab Saudi, maka lokasi masjid-masjid ini terkena gusuran, sehingga jumlahnya hanya tinggal 5 buah masjid.

Oleh karena itu masjid- masjid yang dulunya disebut Masjid Sab’ah (Masjid Tujuh), sekarang berubah nama menjadi Masjid Khamsah (Masjid Lima).  Sementara khandak (parit) yang disebutkan dalam sejarah tersebut, juga sudah tiada lagi, sebab sudah diratakan untuk menjadi sebuah jalan.

Mengunjungi Masjid Khamsah dapat mengingatkan setiap jamaah kepada kearifan Rasulullah SAW dalam menerima pendapat orang lain yang lebih baik dan benar walau berasa) dari bawahannya sendiri. Setiap muslim dapat berbuat seperti itu, manakala semangat menjunjung tinggi kebenaran telah merasuk dalam kalbu kita masing-masing.


  • 0

Indonesia Rintis Pembangunan Hotel di Makkah untuk Jamaah Haji dan Umroh

Indonesia merintis pembangunan hotel jamaah haji dan umroh di Arab Saudi. Dua investor swasta nasional akan terlibat dalam pembangunan  hotel di dekat Misfalah, tidak jauh dari Masjidil Haram.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Anggito Abimanyu mengatakan, dua investor tersebut sudah menghubungi Islamic Development Bank (IDB) untuk bekerjasama.

“Mereka menyatakan minatnya, dan saya dukung seratus persen, karena ini bisa meringankan jamaah haji,” kata Anggito, seusai pertemuan dengan para petinggi IDB di markas IDB di Jeddah, Kamis (24/10/2013).

Anggito menjelaskan, lokasi hotel tersebut direncanakan di Misfalah, tidak jauh dari Masjidil Haram. Investor tersebut, sebut Anggito, punya kerjasama berupa tanah yang dikontrak selama 30 tahun.

Meski proyek ini diserahkan ke swasta, tapi Anggito sempat menyatakan keinginannya supaya Kemenag bisa ikut dalam proyek ini. “Kalau UU mengizinkan Kemenag bisa berinvestasi, kita akan ikut juga. Paling nggak, kita ikut belanja atau terlibat pengadaan barang, sehingga harganya bisa lebih murah,” sebut Anggito, dalam laman Kemenag.

Ketika ditanya jumlah unit dan investornya, Anggito mengaku tidak tahu. Namun, seorang sumber mengatakan, dua investor tersebut adalah investor nasional yang bekerjasama dengan bank Exim. “Nilai investasinya sekitar 600 juta Dolar AS,” kata sumber itu.

Selama ini, pemondokan hotel menjadi masalah bagi jamaah Indonesia. Ada jamaah yang mendapat hotel sekelas hotel berbintang, ada pula yang fasilitasnya sangat minim.

Penentuan pemondokan di Tanah Suci dilakukan melalui qur’ah atau diundi di kantor Kemenag. Undian tersebut dihadiri Kanwil Kemenag seluruh Indonesia.

Selama ini, pemerintah Arab Saudi tidak mengizinkan Indonesia ikut membangun pemondokan atau hotel di Tanah Suci. Biaya pemondokan di Arab Saudi menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar jamaah haji Indonesia.*


  • 0

Kain Penutup Ka’bah ( Kiswah )

kiswah

Sudah tidak aneh lagi melihat kain hitam yang menutupi Ka’bah. Namun, tidak banyak orang yang tahu bahwa selimut Ka’bah yang dinamakan “Kiswah” itu ternyata harganya sangat mahal, yaitu 20 juta real atau sekitar Rp 50 milyar.

Selimut Ka’bah itu terbuat dari sutera murni berwarna hitam pekat. Kiswah dihiasi benang berlapis emas dan perak untuk membuat sulaman kaligrafi berupa ayat-ayat Al-Quran dan ornamen-ornamen bernuansa Islam.

Tulisan itu membentuk angka V (angka tujuh dalam tulisan Arab). Salah satu kalimat yang ditulis di Kiswah Ka’bah adalah Allah Jalla Jalalah, Laailaahaillallah, Muhammad Rasulullah.

Terdapat lima bagian Kiswah yang menutupi Ka’bah. Empat bagian untuk menutupi empat sisi Ka’bah, termasuk bagian atasnya. Sedangkan satu bagian lagi untuk menutup bagian pintu. Ka’bah telah dipilih Allah Swt sebagai Baitullah atau rumah Allah yang menjadi pusat kiblat bagi seluruh umat Islam di dunia untuk melakukan shalat lima waktu.

Kiswah pertama kali dibuat oleh seorang pengrajin bernama Adnan bin ‘Ad dengan bahan baku kulit unta. Namun dalam perkembangannya, Kiswah dibuat dari kain sutera. Untuk membuat sebuah Kiswah diperlukan 670 Kg bahan sutera atau sekitar 600 meter persegi kain sutera yang terdiri dari 47 potong kain. Masing-masing potongan tersebut berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm.

Ukuran itu sudah disesuaikan untuk menutupi bidang kubus Ka’bah pada keempat sisinya. Sedangkan untuk hiasan berupa pintalan emas diperlukan 120 Kg emas dan beberapa puluh kilogram perak. Sejak 1931, Kiswah untuk menutupi Ka’bah diproduksi di sebuah pabrik yang terletak di pinggir kota Mekkah. Dalam pabrik tersebut, pembuatan Kiswah dilakukan secara modern dengan menggunakan mesin tenun modern pula. Di pabrik Kiswah yang areanya seluas 10 hektare itu dipekerjakan sekitar 240 pengrajin Kiswah.

Di balik Kiswah hitam, ada kain berwarna putih yang disebut Bithana Kiswah. Kain itu berfungsi untuk menyerap uap dari dinding Ka’bah dan menghalangi panas yang diserap dari kain Kiswah yang hitam. Kian ini mengandung daya serap tinggi untuk menghindarkan panas yang berlebihan dan mencegah dinding Ka’bah retak.


  • 0

Pencarian

Artikel Terbaru

Umroh Sejarah 2016 2017

Umroh 
Sejarah 2016 2017

Umroh Dauroh Quran 2017

Umroh Dauroh Quran 2017

Jadwal Umroh 2016-2017

Umroh 
Semarang 2015-2016